Hakikat Pendidikan Di Sekolah Dasar


Hakikat Dan Fungsi Pendidikan di SD

PENDAHULUAN
Sahabat Guru, sebagai pendidik di Sekolah Dasar hanya mampu melaksanakan peran dengan baik bilamana mempunyai pemahaman yang baik pula tentang rancangan pendidikan di SD. Kegiatan berguru ini akan mengajak Anda untuk mengkaji rancangan dasar pendidikan secara mendalam sehingga dibutuhkan Anda memiliki pengertian dan pengetahuan yang bagus tentang pendidikan di Sekolah Dasar.

Pengetahuan, pengertian dan pengalaman Anda perihal pendidikan di SD selalu perlu dipersegar dan diperkaya, mengingat ilmu dan rancangan perihal Pendidikan di SD ialah hasil anutan manusia yang bersifat dinamis, berganti-ubah alasannya adalah dampak suasana dan kondisi kehidupan umat insan kebanyakan. Konsep pendidikan selalu mengalami pergeseran seiring dengan tuntutan zaman dan peradaban umat manusia di dunia dalam berbagai aspek kehidupan.

Pemahaman Anda yang bagus ihwal hakikat pendidikan di SD akan memperkaya pengetahuan dan memantapkan iktikad diri Anda sebab Anda mempunyai pegangan yang berpengaruh dalam melaksanakan aneka macam upaya pendidikan di sekolah Anda. Disadari atau tidak, setiap upaya atau langkah-langkah Anda di dalam proses pembelajaran bahkan iktikad Anda mencerminkan bagaimana pemahaman Anda wacana hakikat Pendidikan. Misalnya, guru yang selalu memberikan materi pelajaran cuma dengan cara ceramah di dalam kelas, guru tersebut condong menganggap bahwa hakikat pendidikan cuma mengganti anak “dari tidak tahu menjadi tahu.” Tentu saja asumsi mirip ini sungguh tidak tepat, bahkan menyesatkan alasannya adalah terlalu mereduksi pendidikan hanya sebagai problem pengajaran dalam kelas saja. Jangan hingga pandangan Anda ihwal hakikat pendidikan mirip ini!

Definisi Pendidikan
1. Berkenaan dengan peranan pendidikan, orang yang beradab setidak-tidaknya bmemiliki common sense bahwa pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan mampu mensugesti perkembangan manusia dalam seluruh faktor kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan mempunyai kekuatan (efek) yang dinamis dalam merencanakan kehidupan manusia di kurun depan. Pendidikan mampu berbagi aneka macam kesempatanyang dimilikinya secara maksimal, ialah pengembangan kesempatanindividu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap kemajuan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosio-budaya dimana dia hidup. Persoalannya apakah Anda sebagai pendidik di Sekolah Dasar telah memiliki pemahaman ihwal apa itu pendidikan?

Tentu saja menurut atas pengalaman Anda selaku guru di SD Anda dapat mendefinisikan apa itu pendidikan. Tidak jarang di antara Anda masih ada yang mengartikan pendidikan sebagai proses mengubah anak dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengetahui menjadi memahami, dari tidak mampu menjadi mampu. Apa pun balasan Anda, mari kita persegar dan kita mantapkan pemahaman ihwal pendidikan.

Baca Juga : Permendiknas Tahun 2007 No 13-No16 Tentang Kompetensi Kepala Sekolah dan Kompetensi Guru

Sebelum Anda mempunyai definisi sendiri perihal pendidikan, apalagi dahulu mari kita fokuskan perhatian kita pada definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para andal. Hal ini perlu kita lakukan agar kita memiliki khasanah pengetahuan atau wawasan yang luas, mengenang tidak mudah seseorang mendefinisikan sesuatu tanpa mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas terhadapnya. Pendidikan ialah sebuah fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu maka pendidikan mampu dilihat dan diterangkan dari banyak sekali sudut pandang, mirip dari sudut pandang psikologi, sosiologi dan antropologi, ekonomi, politik, komunikasi dan sebagainya. Oleh sebab itu pula, definisi yang dikemukakan oleh para jago sangat beragam sehingga cukup susah memperoleh definisi yang representatif, mampu diterima oleh seluruh pihak. Definisi yang dikemukakan oleh para ahli memiliki tekanan dan orientasi yang berlawanan-beda sebab landasan falsafah yang digunakannya berbeda-beda pula.

Salah satu pemahaman yang sungguh biasa dikemukakan oleh Driyarkara (1980) yang menyatakan bahwa pendidikan yakni proses memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani mesti diwujudkan di dalam seluruh proses atau upaya pendidikan.

Di dalam Kamus Internasional Pendidikan (International Dictionary of Education) pendidikan setidak-tidaknya mempunyai tiga ciri utama selaku berikut :
  1. Proses menyebarkan kesanggupan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laris lainnya di dalam penduduk , dimana beliau hidup.
  2. Proses sosial, dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (terutama yang datang dari sekolah) untuk mencapai kompetensi sosial dan perkembangan individual secara optimum.
  3. Pengertian tersebut seperti dengan pertimbangan G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah dampak lingkungan atas individu untuk menciptakan perubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan-kebiasaan, ajaran, sikap-sikap, dan tingkah laris. Sejalan dengan pandangan tersebut, Crow and Crow (1960) mengemukakan: mesti diyakini bahwa fungsi utama pendidikan ialah panduan kepada individu dalam upaya menyanggupi keperluan dan impian yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga ia menemukan kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan eksklusif dan kehidupan sosialnya.
Pendapat tersebut menatap pendidikan bukan cuma selaku sumbangan info pengetahuan dan pembentukan keterampilan melainkan lebih luas dibandingkan dengan itu, meliputi usaha untuk mewujudkan keinginan, keperluan dan kemampuan individu sehingga tercapai teladan hidup pribadi dan sosial yang membuat puas. Pendidikan dipandang bukan semata-mata selaku fasilitas untuk merencanakan individu bagi kehidupannya di periode depan tetapi juga untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami pertumbuhan menuju ke tingkat kedewasaan.

1. Berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat diberikan beberapa ciri atau unsur biasa dalam pendidikan, yaitu:
  1. Pendidikan mesti memiliki tujuan, yang pada hakikatnya yakni pengembangan peluangindividu yang berfaedah bagi kehidupan pribadinya maupun bagi warga negara atau warga penduduk yang lain;
  2. Untuk meraih tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan upaya yang disengaja dan terjadwal yang mencakup upaya panduan, pengajaran dan training;
  3. Kegiatan tersebut harus diwujudkan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan penduduk yang umum disebut dengan pendidikan formal, informal dan nonformal.
Tilaar (1999:28) merumuskan hakikat pendidikan sebagai sebuah proses menumbuhkembangkan eksistensi penerima-latih yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional, dan global.

1. Rumusan hakikat pendidikan tersebut memiliki komponen-unsur sebagai berikut :
Pendidikan merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Artinya, proses pendidikan mengimplikasikan bahwa peserta asuh memiliki kemampuan-kemampuan yang immanent (tetap ada) selaku makhluk sosial, dan juga mengimplikasikan bahwa insan ialah makhluk yang tidak pernah final.

2. Proses pendidikan bermakna menumbuhkembangkan keberadaan manusia. Artinya eksistensi manusia yakni suatu eksistensi interaktif. Interaksi insan ini tidak saja dengan sesamanya, namun juga dengan alam, wangsit, dan dengan Tuhannya.

3. Eksistensi insan yang memasyarakat. Proses pendidikan ialah proses mewujudkan eksistensi manusia yang memasyarakat. Dalam proses ini terjadi internalisasi nilai-nilai, pembaruan dan revitalisasi (penyegaran) susila.

4. Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang. Proses tersebut dapat menembus dimensi kala kemudian, kini, dan era depan. Selain itu berkat kemajuan ilmu wawasan dan teknologi komunikasi, proses pendidikan juga dapat menembus dimensi lokal, nasional, regional dan global.

Baca Juga : Permendikbud Nomor 20, 22, 23 Tahun 2016

Sahabat mbahguru.co.id juga harus mengetahui bahwa pandangan perihal hakikat pendidikan yang bersifat holistik dan integratif itu menatap peserta asuh sebagai makhluk yang dikaruniai aneka macam kesempatanoleh Penciptanya. Potensi yang dimiliki oleh peserta didik hanya mampu dikembangkan bila dia mengintegrasikan diri ke dalam kehidupan masyarakat dan merealisasikan tata kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh penduduk . Itulah manusia yang

berbudaya. Dengan demikian, pendidikan tidak dapat dan dihentikan dipisahkan dari kebudayaan. Proses pendidikan yakni proses kebudayaan dan proses kebudayaan ialah proses pendidikan. Memisahkan pendidikan dari kebudayaan mempunyai arti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai budpekerti di dalam kehidupan insan.

Uraian di atas mengisyaratkan bahwa mendidik berarti bertindak secara bertujuan untuk menghipnotis kemajuan peserta ajar sebagai langsung dalam kesatuan sistem sosio-budaya, dimana beliau hidup. Itulah sebabnya setiap pendidik harus mempunyai kemampuan menghipnotis akseptor didik. Sumber kemampuan ini yakni kesanggupan dan keahlian yang dimiliki serta karakteristik pribadinya.

Pengaruh apa yang diberikan oleh pendidik terhadap peserta latih agar mencapai tujuan tertentu, bukan ialah pilihan teknis belaka, melainkan juga ialah pilihan adab. Pendidik sudah niscaya mesti menentukan apa yang “terbaik” bagi kehidupan penerima latih kini dan era depan. Ini bermakna bahwa konsentrasi dan tujuan pendidikan bukan cuma aspek kurun sekarang melainkan juga menyangkut tujuan hidup manusia dan perkembangannya di era depan baik selaku eksklusif, sebagai warga penduduk , selaku warga negara, bahkan sebagai warga dunia serta sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan perkiraan „dimana pun pendidikan akan selalu berhadapan dengan individu insan yang tengah berkembang?, Sunaryo Kartadinata (1996) mengemukakan pengertian pendidikan dalam rumusan yang cukup sederhana tetapi penuh makna, ialah pendidikan adalah proses menjinjing manusia dari apa adanya kepada bagaimana sebaiknya.

Kondisi apa adanya yakni keadaan konkret akseptor ajar saat ini, suatu eksistensi anak dengan segala potensi, kemampuan, sifat, dan kebiasaan yang dimilikinya. Sedangkan keadaan bagaimana seharusnya ialah sebuah kondisi yang dibutuhkan terjadi pada diri anak, berupa pergantian perilaku dalam faktor cipta, rasa, karsa dan karya yang berlandaskan dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi.

Dalam proses pendidikan terjadi proses perkembangan. Pendidikan yaitu proses membantu penerima latih supaya berkembang secara optimal; ialah meningkat setinggi mungkin, sesuai dengan kesempatandan tata cara nilai yang dianutnya dalam masyarakat. Pendidikan bukanlah proses memaksakan keinginanorang akil balig cukup akal (guru) kepada penerima bimbing, melainkan upaya membuat kondisi yang aman bagi perkembangan anak, ialah kondisi yang memberi akomodasi terhadap anak untuk membuatkan dirinya secara

maksimal. Ini bermakna bahwa di dalam proses pendidikan anak aktif berbagi diri dan guru aktif menolong membuat kemudahan (facilitating) untuk kemajuan yang maksimal itu.

Betapa pun sulitnya mendefinisikan pendidikan, tetapi untuk keperluan aplikasinya tetap perlu memiliki pegangan tertentu, biar apa yang Anda kerjakan di sekolah mempunyai pijakan yang mantap. Sekarang Bangsa Indonesia telah mempunyai Undang-undang No. 20 Tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional. Dengan adanya Undang-undang ini, maka penyelenggaraan pendidikan, terutama pendidikan formal di sekolah sudah memiliki pijakan legal yang mantap, bahkan mengikat aneka macam pihak termasuk Anda selaku guru untuk melaksanakannya secara konsekuen.

Akhirnya makna pendidikan yang mantap dinyatakan di dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 wacana Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 (1) dinyatakan pendidikan sebagai “… usaha sadar untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar penerima asuh secara aktif menyebarkan peluangdirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, budpekerti mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan oleh dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.”

Jika dikaji lebih mendalam, makna pendidikan tersebut mengandung beberapa hal, yakni :
  1. Pendidikan itu ialah perjuangan sadar, artinya langkah-langkah mendidik bukan merupakan tindakan yang bersifat refleks atau impulsif tanpa tujuan dan planning yang jelas, melainkan ialah tindakan yang rasional, disengaja, disiapkan, dijadwalkan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan mendidik mesti didasarkan atas tujuan dan dengan alasan-alasan yang rasional dan normatif, bukan tindakan serampangan atau sembarang pilih.
  2. Paradigma baru praktek pendidikan lebih menekankan terhadap pembelajaran alih-alih kepada proses mengajar yang memprioritaskan peran guru, melainkan secara sengaja dan terpola guru mempergunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan untuk mencapai keberhasilan belajar anak
  3. Mewujudkan suasana berguru dan proses pembelajaran yang efektif menjadi fokus utama proses pendidikan
  4. Anak harus aktif, artinya bukan cuma menyimak saja, melainkan mesti lebih banyak mengajukan pertanyaan, melakukan kegiatan tertentu, mencari sumber belajar, menjajal dan menemukan sendiri;
  5. Tujuan pendidikan ialah menumbuhkembangkan eksklusif-pribadi yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas dan mempunyai keahlian yang berguna bagi kehidupan dirinya, penduduk dan bangsa.
Setelah menyimak beberapa definisi pendidikan yang dikemukakan oleh beberapa jago dan dimantapkan dengan makna pendidikan yang ditetapkan di dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, berikutnya Anda mampu mempersegar pengertian Anda wacana hakikat pendidikan di Sekolah Dasar.

Kajian perihal tujuan pendidikan di sekolah dasar remaja ini harus senantiasa dikaitkan dengan pendidikan dasar sebab sekolah dasar merupakan bab dari metode (subordinasi) pendidikan dasar. Seperti yang telah Anda ketahui pula bahwa pendidikan dasar yaitu bab terpadu dari tata cara pendidikan nasional. Pendidikan dasar merupakan pendidikan yang lamanya 9 tahun yang diselenggarakan selama 6 (enam) tahun di sekolah dasar (Sekolah Dasar) dan 3 tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) atau satuan pendidikan yang sederajat.

Sekolah dasar (SD), menurut Waini Rasyidi (1993) pada hakikatnya ialah satuan atau unit forum sosial (social institution) yang diberi amanah atau tugas khusus (specific task) oleh penduduk untuk mengadakan pendidikan dasar secara sistematis. Dengan demikian, istilah sekolah dasar merujuk pada satuan forum sosial yang diberi amanah spesifik oleh penduduk untuk menyelenggarakan pendidikan dasar potongan pertama selama enam tahun untuk dilanjutkan pada potongan pendidikan dasar kedua selama 3 tahun di SLTP atau satuan pendidikan yang sederajat.
Atas dasar pemahaman ihwal beberapa definisi pendidikan maka Anda dapat mendefinisikan Pendidikan SD sebagai sebuah proses yang bukan cuma memberi bekal kesanggupan intelektual dasar dalam membaca, menulis dan berhitung saja melainkan juga selaku proses mengembangkan kemampuan dasar penerima ajar secara optimal dalam faktor intelektual, sosial, dan personal, untuk mampu melanjutkan pendidikan di SLTP atau yang sederajat.

Secara teknis pendidikan SD mampu pula didefinisikan selaku proses membimbing, mengajar dan melatih akseptor ajar yang berusia antara 6 – 13 tahun untuk mempunyai kesanggupan dasar dalam aspek intelektual, sosial dan personal yang terintegrasi dan sesuai dengan karakteristik perkembangannya.

Dalam definisi operasional tersebut di atas, Anda dapat memantapkan pemahaman bahwa tujuan pendidikan SD adalah menyebarkan kesanggupan siswa dalam faktor intelektual, sosial dan personal yang paling mendasar untuk mampu mengikuti pendidikan di SLTP.


LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda tentang bahan di atas, kerjakanlah latihan berikut!
1) Diskusikan dengan 3 - 5 orang sobat kuliah Anda: mengapa guru harus mempunyai pemahaman yang bagus dan kepercayaan tertentu wacana pendidikan?

2) Rumuskan satu definisi pendidikan yang Anda yakini sebagai rumusan yang cukup komprehensif dan baik menurut Anda sendiri!

3) Cobalah berdiskusi dengan 2 – 3 orang sahabat kuliah Anda untuk saling menawarkan balasan wacana definisi masing-masing!

Petunjuk Jawaban Latihan
1) Tidak usah terlalu banyak prolog, mulailah diskusikan isu yang pertama “mengapa guru mesti memiliki pengertian yang bagus dan dogma tertentu wacana pendidikan?”.

2) Bacalah kembali beberapa paragraf yang Anda pandang cukup sesuai dengan pemahaman Anda selama ini.

3) Mulailah Anda menulis untuk merumuskan definisi pendidikan! Bacakan rumusan definisi Anda dengan cukup lantang di hadapan sobat-teman Anda, kemudian mintalah tanggapannya.

RANGKUMAN
  1. Walaupun definisi pendidikan yang dikemukakan para jago sangat beragam, tetapi untuk keperluan aplikasi, Anda tetap perlu mempunyai pegangan tertentu yang cukup mantap. Salah satu persepsi yang tetap mantap tentang pendidikan hingga kini yaitu pandangan perkembangan.
  2. Oleh sebab setiap pendidik (guru) selalu berhadapan dengan individu yang tengah berkembang maka pendidikan dapat dipandang selaku proses membantu peserta asuh untuk meraih tingkat perkembangan yang optimal dalam seluruh faktor kepribadiannya sesuai dengan peluangyang dimiliki dan metode nilai yang berlaku di lingkungan sosial-budaya dimana dia hidup.
  3. Pendidikan bukanlah proses memaksakan hasratorang akil balig cukup akal (guru) terhadap akseptor asuh, melainkan upaya membuat keadaan yang kondusif bagi optimalisasi perkembangan anak.
  4. Pendidikan di Sekolah Dasar mampu didefinisikan selaku proses pengembangan kesanggupan yang paling mendasar setiap siswa, dimana tiap siswa berguru secara aktif karena adanya dorongan dalam diri dan adanya suasana yang menawarkan kemudahan (aman) bagi kemajuan dirinya secara optimal.
  5. Pendidikan di Sekolah Dasar bukan cuma diorientasikan pada memberi bekal kesanggupan membaca, menulis dan berhitung, melainkan pada penyiapan intelektual, sosial, dan personal siswa secara maksimal untuk berguru secara aktif membuatkan dirinya selaku langsung, selaku anggota masyarakat, selaku warga negara, dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
 
TES FORMATIF 1
Pilihlah satu tanggapan yang paling tepat!
1) Pendidikan di Sekolah Dasar sering disebut selaku pendidikan transisional (peralihan) sebab merupakan peralihan dari ....
A. pendidikan informal ke pendidikan formal
B. rumah ke situasi sekolah
C. rumah ke penduduk
D. rumah ke pendidikan dan pengajaran

2) Perbedaan antara SD dan SLTP terletak dalam hal ....
A. pengelolaan sekolah
B. metode penggunaan guru
C. manajemen kurikulum
D. metode mengajar

3) Persamaan antara SD dan SMP terletak dalam hal ....
A. tingkat perkembangan akseptor ajar
B. kurikulum yang dikembangkan
C. berada dalam satu jenjang
D. tata cara pendidikan dan pengajaran

4) Pernyataan yang lebih dekat dengan pendidikan di SD bahwa pendidikan adalah proses ....
A. pengajaran
B. memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan yang diharapkan siswa Sekolah Dasar
C. menciptakan situasi aman bagi pertumbuhan siswa SD secara optimal
D. pinjaman pengalaman terhadap mahasiswa

5) Seorang guru Sekolah Dasar sering disebut selaku peletak dasar pendidikan formal karena beliau ....
A. mendidik anak yang gres datang dari lingkungan keluarga
B. mengajar banyak sekali mata pelajaran
C. memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan sekolah
D. menyiapkan siswa supaya melanjutkan ke SLTP

Cocokkanlah balasan Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian final modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengenali tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar ?100% Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik, 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila meraih tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda mampu meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda mesti mengulangi bahan Kegiatan Belajar 1, utamanya bab yang belum dikuasai.

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1


1) C. Rumah ke masyarakat.
2) B. Sistem penggunaan guru.
3) C. Berada dalam satu jenjang.
4) C. Menciptakan situasi aman bagi siswa Sekolah Dasar secara maksimal.
5) C. Memberikan bekal wawasan dan keterampilan dasar untuk melanjutkan sekolah.


Sumber https://www.mbahguru.co.id/

Comments