Assalamualaikum...
Wassalamualaikum...
Sumber https://porslinsamatoren.blogspot.com
Saat saya sedang duduk kalem di dalam rumah Nenek, aku menyaksikan dari jendela rumah bahwa diluar ada beberapa anak kecil yang sedang bermain di kali. Bermain diatas sebuah rakit yang aku sendiri tidak tahu itu milik siapa. Meski air kali sangat coklat dan keruh, bawah umur itu tetap saja cekikikan bermain diatas rakit tersebut.
Tidak sering memang saya menyaksikan hal itu ketika berada dirumah Nenek, maka saya pun segera keluar rumah dan melihatnya secara pribadi. Tak lupa aku mengabadikan momen tersebut dengan kamera handphone aku.
Kali di Bawah Kali
Yang sahabat lihat diatas ialah Kali Sunter dan itu bawah umur yang sedang bermain diatas rakit yang aku ceritakan tadi. Daerah tempat tinggal Nenek aku memang agak unik berdasarkan aku, karena di sampingnya terdapat suatu kali. Loh, unik darimananya? Banyak kok yang rumahnya bersahabat dengan kali! Hehehe tabah sob, nanti saya jelaskan.
Memang benar bertempat tinggal di dekat sebuah kali itu telah biasa, namun bagaimana risikonya bila diatas kali masih ada kali lagi?. Kali sunter yang berada di bersahabat rumah Nenek saya itu diatasnya ada kali lagi sob, apalagi bila bukan kalimalang.
Biasanya saya cuma melihat beberapa orang yang sedang mengumpulkan sampah saja di kali itu, tetapi hari ini ada belum dewasa yang bermain diatasnya menggunakan suatu rakit. Sebenarnya itu kali cukup dalam sob dan mereka menggunakan tongkat panjang untuk menertibkan rakit tersebut. Dengan adanya tongkat mereka mampu bebas kesana kemari tanpa takut terapung-apung tanpa arah diatas kali sunter, keceriaan di muka mereka sungguh terlihat terperinci.
Saat saya hendak memfoto mereka, ada salah satu anak yang berteriak "Mau di vidioin ya Bang? Mau di masukin ke youtube ya?" Hehehe ada-ada saja anak itu. Saya jawab saja jika saya cuma ingin memfoto saja, aku menenangkan mereka bahwa saya tidak akan memasukkan mereka ke youtube. Entah, mungkin mereka tak mau populer seperti Atta Halilintar.
Oh ya aku lupa menerangkan, jadi diatas rakit tersebut ada enam orang anak. Tiga orang anak selaku pengendali rakit atau perumpamaan kapalnya mereka selaku nahkoda dan tiga yang lain cuma berteriak-teriak manja kegirangan, ya mereka tidak mempunyai posisi penting di rakit tersebut.
Pada akhirnya, ketiga orang anak yang tidak memiliki posisi penting itu pun turun dari rakit, entah sudah puas bermain atau takut tercebur ke air. Kalau memang takut tercebur ke air sih mungkin dari awal ia tidak akan ikut naik ya. Tiga orang yang lain yang bertindak selaku nahkoda melanjutkan pelayaran mereka.
Bahagia itu Sederhana
Saya berguru satu hal dari belum dewasa yang sedang bermain di kali sunter itu, bahwa untuk mendapat suatu kebahagiaan itu sangat sederhana. Kita mungkin sering iri kepada apa yang orang lain miliki, namun bahu-membahu kita tidak tahu apakah orang tersebut bahagia dengan yang dia miliki atau tidak.
Rasa iri sering kali membuat diri kita lupa untuk bersyukur terhadap apa yang telah kita punya. Dengan bersyukur saban hari, merasa bahwa Allah telah sungguh adil kepada hidup kita, tentu akan membuat rasa bahagia itu muncul. Bahagia itu sederhana, bersyukur adalah kuncinya. Itu yang saya tangkap dari setiap senyum dan tawa belum dewasa yang sedang bermain di atas kali sunter itu.
Meski kalinya kotor tetapi mereka tetap senang. Kali sunter itu kadang-kadang dipenuhi dengan puluhan bahkan ratusan sampah, ternyata masih banyak orang yang merepotkan membedakan antara kali dengan tempat sampah. Apakah mereka mesti mencar ilmu lagi? Entahlah.
Itulah secuil kebahagiaan yang ada diatas kali sunter dekat tempat tinggal Nenek aku. Terimakasih karena telah membaca dan jangan lupa senang.
Wassalamualaikum...
Comments
Post a Comment