Assalamualaikum...
Apa kabar kalian semua sob? hari ahad gini pada planning mau kemana nih? kalo saya sih dirumah aja tetapi nanti mau latihan basket. Oke pada kesempatan kali ini saya mau share cerpen karya aku sendiri nih, langsung aja dibaca deh hehehe mohon maaf kalo dari sisi penulisan belum terlalu rapih dan alur ceritanya juga belum terlalu cantik.
Sumber https://porslinsamatoren.blogspot.com
Apa kabar kalian semua sob? hari ahad gini pada planning mau kemana nih? kalo saya sih dirumah aja tetapi nanti mau latihan basket. Oke pada kesempatan kali ini saya mau share cerpen karya aku sendiri nih, langsung aja dibaca deh hehehe mohon maaf kalo dari sisi penulisan belum terlalu rapih dan alur ceritanya juga belum terlalu cantik.
Matamu bukan hatimu!
Tak terasa tiga bulan lamanya aku berada di kota ini, di daerah ini dan di rumah ini. Telah tiga bulan lamanya pula ku melihatmu duduk melongo di taman itu dengan wajah yang nampak duka, mata yang ingin menangis dan bibir yang tidak pernah ada senyum yang mengembang. Tatapanmu kosong, bahkan kamu tidak tahu dimana letak orang yang memanggilmu. Kau buta, ada perasaan iba dikala mendengar kenyataan itu. Apakah alasannya itu kau terlihat murung dan sama sekali tidak mempunyai semangat untuk hidup. Tahukah kamu disini ada lelaki biasa yang senantiasa memperhatikanmu, melihatmu dan menjajal melindungimu dari kejauhan. Akulah lelaki itu!.
Namaku Rico, tepatnya Rico Syahrian saya berasal dari luar kota dan pekerjaan ayahku lah yang mewajibkan aku dan keluargaku pindah ke kota ini. Hari pertama pindah aku mencoba berkeliling di sekeliling kawasan kawasan tinggalku yang gres dan menjajal menyapa tetanggaku. Tak kusangka tidak jauh dari rumahku terdapat taman yang indah dan luas, kucoba melangkahkan kaki ku menuju kawasan itu. Taman yang nyaman dan bersih tentunya di kelilingi pepohonan rindang dan kembang-kembang yang manis yang mampu menyejukkan mata seseorang ketika melihatnya. Di taman ini lah saya melihatnya, gadis berjilbab putih dengan paras yang anggun tengah duduk di kursi taman dengan tongkat di sampingnya.
“Tongkat? Untuk apa gadis anggun mirip dia menjinjing tongkat sepanjang itu?” Sebuah Tanya tercipta di dalam benakku.
Seketika pertanyaan itu pun terjawab sudah saat saya melihat seorang perempuan yang berumur diatasku mengundang nama gadis elok itu. Gadis itu bangkit dari duduknya dan terlihat mirip kebingungan mencari seseorang yang memanggilnya, padahal perempuan yang memanggilnya terletak di samping kanannya dan tidak terlampau jauh. Ternyata ia buta. Ia gerakkan tongkatnya sembari di bantu wanita tadi dan kurasa ia akan pulang kerumahnya.
Jarum pendek jam sudah menunjukkan angka sebelas, sedangkan jarum panjangnya sudah memberikan angka duabelas. Ada apa dengan diriku? Biasanya jam Sembilan malam saja akupun telah tertidur lelap bahkan sudah pergi ke alam mimpi yang kadang kala indah acap kali pula seram sehingga membuat tubuhku lembap berkeringat ketika bangkit sebab ketakutan. Aku rasa semenjak pulang dari taman tadi saya senantiasa terfikir akan sosok gadis yang kutemui di taman tadi. Dia Bella, itulah nama gadis yang kutemui di taman tadi dan aku mengenali namanya dikala wanita tadi memanggilnya. Ada rasa menggelitik di dada ini dan tanpa sengaja sudut bibirku mulai bergerak dan membuat sebuah senyuman, ya saya tersenyum sendiri mirip orang tidak waras. Aku rasa saya menyukainya pada pandangan pertama.
Aku terjaga dari lamunan panjangku, ya sedari tadi aku duduk di taman ini dan mengingat kembali saat pertama kali ku melihatnya. Dia disini di kawasan biasa ia duduk dan mirip biasa tatapannya kosong. Ia berdiri dari duduknya mengambil tongkatnya yang berada sempurna di samping lengan kanannya. Ku perhatikan Bella dari sini, ia menuju jalan raya. Sebuah kendaraan beroda empat sedan melaju lumayan cepat kearahnya dan seketika Bella tersungkur ke aspal dikarenakan mobil tersebut menyerempet dirinya dan berlalu begitu saja. Sontak saja aku yang sedari tadi memperhatikannya eksklusif menghampirinya. Dan tak usang pun warga sekitar menghampiri kami berdua.
“Hey kau tidak apa apa?” Tanyaku sembari menolong Bella untuk duduk.
“Kurasa tangan dan kakiku luka.” Jawabnya yang membuatku memfokuskan mataku untuk menilik kaki dan tangannya itu.
“Kakimu lecet dan berdarah, dimana rumahmu? Akan kuantar kamu untuk pulang!”
”Terima kasih, tetapi saya bisa pulang sendiri.”
“Sudahlah” Kata itu yang terucap dari bibirku sembari ku bantu beliau berdiri dan di tolong pula oleh seorang bapak-bapak yang berada di samping kiriku.
“Terima kasih pak, supaya saya saja yang mengantarkan dia pulang.”
“Baiklah bila begitu hati-hati nak!” Ucap bapak-bapak itu.
Ku lingkarkan tangan kanannya ke tengkukku sembari tangan kananku memegangnya semoga beliau bisa tetap berjalan. Sampailah kami di sebuah rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya berbeda satu blok saja.
“Ini rumahmu?” Tanyaku sambil menatapnya.
Ia tak menjawab pertayaanku, kemudian ia mengundang seorang perempuan yang tempo hari kulihat di taman wanita itu memanggilnya untuk segera pulang. Dan dari sini ku ketahui bahwa perempuan itu yaitu kakaknya.
“Kamu kenapa Bella?” Tanya kakaknya cemas yang melihat luka di kaki dan tangan Bella.
“Aaku…” Belum sempat Bella menjawab pertanyaan kakaknya aku pribadi memangkas ucapannya.
“Tadi dia emmm maksudku Bella di serempet oleh seseorang yang mengendarai mobil sedan, tapi orang itu malah pergi begitu saja saya yang lihat insiden itu pribadi menghampirinya dan menolong ia untuk berlangsung.” Jelasku yang membuat kakak Bella mengangguk paham.
“Terima kasih ya, untung ada kau yang nolongin Bella.”
“Tidak kak! Tadi bela dengar banyak orang yang menghampiri Bella kok, namun dianya aja yang mau bantu Bella padahal Bella ga butuh bantuannya.” Ucap Bella yang eksklusif menciptakan hatiku terasa sakit sekali.
“Hussst Bella jangan ngomong gitu! Oh ya nama kau siapa dek?” Tanya kakaknya padaku.
“Namaku Rico kak, Rico Syahrian.”
“Namamu elok pantas kamu baik, ayo silahkan masuk dulu kakak buatkan kau minum.”
“Tidak kak terima kasih, aku kesini hanya untuk mengirim Bella pulang, permisi kak Assalamualaikum.” Ucapku sambil berlalu meninggalkan Bella dan kakaknya yang masih bangkit di depan pintu.
“Waalaikumsalam.” Jawab Bella dan kakaknya.
Setiap waktu aku selalu memikirkan hari itu, hari yang menciptakan hatiku sakit. Bagaimana tidak sakit jika melihat orang yang disayang terluka dan parahnya lagi hati ini sakit ketika mendengar kata-katanya pada dikala itu. Dan sejak kejadian itu pula aku jarang melihatnya di taman akhir-akhir ini.
“Rico kamu kenapa tumben jam segini udah pulang?” Tanya ibuku heran yang melihatku begitu cepat pulang, padahal gres beberapa menit saya keluar.
“Tidak apa-apa bu, ia tidak ada.” Ups saya keceplosan.
“Dia tidak ada? Dia siapa maksudmu?”
“Eh tidak bu, maksudku tidak ada yang menawan diluar makanya saya cepat pulangnya.” Jelasku yang menciptakan ibu tersenyum dan tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.
“Kemana ia? Apakah beliau masih sakit? Sungguh saya mengkhawatirkannya. Oke oke kalau begitu besok pagi aku akan kerumahnya untuk sekedar melihat keadaannya.” Batinku
Hujan deras turun di pagi ini yang menebarkan hawa hambar dimana-mana. Namun entah mengapa diriku tidak senang hujan di pagi ini seperti aku mengutukknya yang membuatku ragu untuk pergi kerumah Bella.
”Duhhh hujan lagi.” Gumamku dalam hati.
“Mungkin hari ini tidak tepat, saya rasa besok saja saya menemuinya.”
Yap, hujan sukses membuat rencanaku untuk pergi kerumahnya batal. Hujan turun lebih deras seakan-akan dia menertawaiku. Hari itu saya hanya bersantai di kamar, sesekali aku keluar hanya untuk mandi dan makan, ya aku mesti makan saya tak ingin mati sebelum aku bertemu dengannya.
Hari ini berlawanan dengan kemarin. Mentari pagi ini bersinar dengan terang, menemaniku yang sedang bersiap untuk kerumahnya.
“Assalamualaikum.” Aku mengucap salam sambil tanganku mengetuk pintu rumah Bella.
“Waalaikumsalam.” Jawab seorang perempuan dari dalam sembari membukakan pintu dan ia kakaknya Bella.
“Bellanya ada kak?”
“Eh kamu Rico, emmm Bellanya tadi lagi keluar katanya si mau ke taman.”
“Kalo gitu aku eksklusif ke taman aja ya kak, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, hati hati ko! Jagain ya Bellanya!” Seru kakak Bella dengan tersenyum kearahku.
Sampai di taman saya menyaksikan seorang gadis yang tidak asing lagi bagiku, sedang duduk sendiri ya dia itu Bella pribadi saja ku hampiri dia dan duduk di sebelahnya.
“Hai Bella, gimana keadaan kau?”
“Aku baik-baik aja kok.”
“Lain kali hati-hati ya!” Ucapku sambil mengusap kepalanya yang tertutup jilbab.
“Ih apaan sih kau ko.” Ucapnya sambil menyingkirkan tanganku.
Aku pun tertawa melihatnya. Semenjak ketika itu juga hubunganku dengan Bella kian bersahabat dan saya merasa bahwa rasa suka yang ada di hatiku kini telah berubah menjadi cinta.
“Lupakan rasa cintamu padaku Rico!”
“Tapi kenapa Bella?”
“Kau itu terlalu tepat untukku!” Jawabnya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Sedangkan saya tidak sempurna Rico! Aku buta!” Sambung Bella dengan tangis yang tidak mampu tertahan lagi.
“Hey jangan menangis! Kau itu tepat untukku, saya menyayangimu semenjak aku pertama kali melihatmu di taman itu dan rasa itu tidak pudar meski ku tau kamu memiliki kekurangan.” Jelasku dengan menghapus air matanya yang mengalir.
“Katakan saja kalau saya buta ko! Biar lebih terang!”
“…” Aku terdiam sambil menatap langit.
“Katakan saja saya buta!”
“Matamu bukan hatimu! Matamu memang buta dan tak bisa menyaksikan, tapi hatimu tetap bisa mencicipi cinta dariku.”
“…” Ia termangu menatapku.
“Aku mencintaimu dengan nrimo aku berharap bisa menjadi kekasihmu dan aku akan menjadi matamu supaya saya senantiasa mampu menuntunmu, saya ingin melindungimu Bella!” Jelasku yang menciptakan Bella menitihkan air bening itu lagi.
“Apakah kamu serius akan menimbulkan gadis buta ini selaku kekasihmu?”
“Matamu bukan hatimu!”
“Baiklah aku mau menjadi kekasihmu Rico.” Jawabnya dan aku pun memeluknya.
Semenjak itu saya dan Bella menjadi sepasang kekasih yang selalu bareng , saling berbagi dan saling melengkapi. Bella pun sadar kalau matanya tak mampu melihat namun hatinya tetap bisa merasakan keberadaan cinta sejatinya.
Gimana sob cerpennya, udah dibaca kan tadi? kalo menurut saya sendiri kisah nya kurang ngena hehehe. Yaudah sob segitu aja untuk artikel kali ini.
Wassalamualaikum...
Comments
Post a Comment